israel Jatuhkan Bom ke Gaza Saat Idul Adha, Korban Berjatuhan
Sementara Idul Adha dirayakan di sebagian besar dunia dengan shalat berjamaah, pertemuan keluarga, dan tradisi meriah, warga Palestina juga merayakan hari pertama Idul Adha—tetapi dalam kondisi yang sama sekali berbeda.
Bagi warga Palestina di Al-Quds yang diduduki, Tepi Barat, dan Gaza, Idul Adha tiba di tengah pemboman, pembatasan militer, pengungsian, penangkapan, dan perang yang terus berlanjut. Sementara takbir bergema dari masjid dan tempat shalat, peristiwa itu terjadi di tengah latar belakang serangan udara, rumah-rumah yang hancur, dan operasi militer yang meluas.
Di seluruh Palestina, hari raya ini menjadi cerminan dari realitas yang sangat kontras: ibadah massal di tempat-tempat suci meskipun ada pembatasan militer, salat di antara reruntuhan di Gaza, dan serangan militer yang terus berlanjut bahkan pada salah satu kesempatan paling suci dalam kalender Muslim.
Di Gaza, hari pertama Idul Fitri dimulai di tengah serangan israel yang terus berlanjut.
Al Mayadeen melaporkan bahwa jumlah warga Palestina yang gugur dalam serangan israel semalam di lingkungan Al-Rimal di Gaza barat meningkat menjadi enam orang (27/5).
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum salat Idul Fitri, sementara bombardir israel terus berlanjut di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Serangan sebelumnya menargetkan Gaza barat dan Khan Yunis timur. Pesawat tempur israel menghantam sebuah apartemen di sebelah barat Gaza, sementara tembakan artileri menghantam Khan Yunis timur. Lebih dari sepuluh warga Palestina dilaporkan terluka.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan rumah sakit menerima enam korban gugur dan tiga puluh empat korban luka selama dua puluh empat jam sebelumnya. Kementerian juga menyatakan bahwa para korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan yang tidak dapat diakses oleh tim penyelamat karena serangan yang terus berlanjut dan kondisi lapangan yang memburuk.
Gambar dari Rumah Sakit Al-Shifa menunjukkan jenazah dan warga sipil yang terluka berdatangan setelah serangan, termasuk anak-anak.
Bagi banyak warga Palestina di Gaza, Idul Fitri semakin dikaitkan dengan kehilangan daripada perayaan.
Untuk tahun ketiga berturut-turut, warga Palestina di Gaza tidak dapat melaksanakan ibadah haji. Ritual pengorbanan yang secara tradisional dikaitkan dengan Idul Adha juga sebagian besar hilang karena kondisi pengepungan yang terus berlanjut, kerusakan, dan kekurangan yang parah.
Shalat tahun ini kembali dilakukan di reruntuhan masjid yang hancur dan di ruang terbuka di tengah kehancuran yang meluas. (is/knrp)
