Hentikan Perang Atau Amerika Bersiap Masuk ke Jurang Resesi
Kepala Ekonom Moody’s, Mark Zandi, memperingatkan bahwa AS hanya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.
Kenaikan harga minyak dan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko resesi dan mengancam pengeluaran konsumen.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat menyebabkan harga bensin naik di atas $5 per galon dan semakin merusak pertumbuhan ekonomi.
Waktu Hampir Habis
Kepala Ekonom Moody’s, Mark Zandi, telah memperingatkan bahwa Amerika Serikat hanya memiliki waktu yang sempit untuk mencapai terobosan diplomatik dengan Iran sebelum dampak ekonomi dari konflik yang sedang berlangsung secara signifikan meningkatkan risiko resesi.
Berbicara kepada kantor berita keuangan yang berbasis di AS, Bloomberg, Zandi mengatakan beberapa hari ke depan akan sangat penting. Ia berpendapat bahwa perjanjian perdamaian yang mampu mengurangi ketegangan dan menurunkan harga minyak dapat membantu mencegah penurunan ekonomi yang lebih luas.
“Ini harus terjadi dengan sangat cepat, dalam satu, dua, tiga hari ke depan, minggu depan atau lebih,” kata Zandi. “Setelah itu, saya pikir kita akan menghadapi masalah yang serius.”
Harga Minyak Melonjak
Peringatan ini muncul ketika negosiasi antara Washington dan Teheran tetap buntu.
Menurut laporan, Iran telah menangguhkan negosiasi dan mempertahankan pembatasan yang memengaruhi Selat Hormuz sampai tuntutan utama dipenuhi. Perkembangan ini telah memicu kekhawatiran baru di pasar energi global.
Harga minyak bereaksi tajam. Minyak mentah Brent dan patokan minyak mentah AS keduanya naik sekitar tujuh persen pada hari Senin di tengah kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada salah satu koridor energi terpenting di dunia.
Selat Hormuz membawa sebagian besar ekspor minyak global, sehingga setiap gangguan menjadi kekhawatiran besar bagi pasar energi dan ekonomi pengimpor. (is/knrp)
