22.057 Perempuan Gaza Telah Kehilangan Suami Sejak Awal Genosida
Biro Pusat Statistik Palestina telah memperingatkan bahwa perang yang sedang berlangsung telah secara signifikan memperburuk kondisi sosial dan ekonomi perempuan di Gaza, meningkatkan jumlah janda, memperdalam pengangguran, dan sangat merusak sektor kesehatan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Ahad untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, biro tersebut mengatakan bahwa perempuan diperkirakan akan mencapai sekitar 49 persen dari total populasi di Palestina pada akhir tahun 2025, atau sekitar 2,74 juta perempuan (9/3).
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,69 juta tinggal di Tepi Barat dan 1,06 juta di Jalur Gaza, yang menyoroti apa yang digambarkan biro tersebut sebagai peran sentral perempuan dalam masyarakat Palestina.
Menurut data, 22.057 perempuan di Gaza telah kehilangan suami mereka sejak awal perang, meningkatkan proporsi rumah tangga yang dikepalai perempuan dari 12 persen sebelum konflik menjadi sekitar 18 persen selama perang.
Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan pasar tenaga kerja yang parah. Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja Gaza tetap berada di angka 17 persen pada tahun 2025, sementara partisipasi laki-laki turun tajam dari 63 persen menjadi 31 persen. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 92 persen, dibandingkan dengan 81 persen di kalangan laki-laki.
Di Tepi Barat, partisipasi angkatan kerja perempuan berada di angka sekitar 19 persen, dibandingkan dengan 72 persen untuk laki-laki, sementara tingkat pengangguran adalah 27 persen untuk perempuan dan 28 persen untuk laki-laki.
Di antara kaum muda berusia 19 hingga 29 tahun dengan diploma atau lebih tinggi, pengangguran mencapai 79 persen, termasuk 86 persen untuk perempuan dan 70 persen untuk laki-laki, yang mencerminkan apa yang digambarkan oleh biro tersebut sebagai kesenjangan ekonomi yang semakin lebar antara kedua jenis kelamin. (is/knrp)
