Laporan Palestina: israel Perluas Permukimannya dan Perkuat Kontrol di Utara Tepi Barat
Tepi Barat – Data di lapangan menunjukkan peningkatan aktivitas permukiman penjajah israel di wilayah utara Tepi Barat. Bersamaan dengan itu, operasi militer di kawasan tersebut, terutama di kamp-kamp pengungsi Palestina, juga terus berlangsung. Menurut laporan Palestina dan penjajah israel yang dikutip Al Jazeera Arab, berbagai langkah tersebut dinilai bertujuan memperkuat kontrol penjajah israel atas wilayah utara Tepi Barat, mengisolasi komunitas-komunitas Palestina, serta memutus keterhubungan geografis di antara mereka.
Menurut Biro Nasional untuk Pertahanan Tanah dan Perlawanan Permukiman di bawah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), otoritas penjajah israel tengah mendorong sejumlah proyek permukiman baru yang ditujukan untuk mengubah kondisi geografis dan demografis di utara Tepi Barat. Upaya tersebut dilakukan melalui rencana pembangunan dan pengembangan 18 permukiman yang menargetkan ribuan dunam lahan Palestina.
Lembaga tersebut menyebut bahwa otoritas penjajah israel tidak hanya mengaktifkan kembali empat permukimannya yang pernah dievakuasi pada 2005 dalam kerangka rencana pemisahan sepihak yang dijalankan pemerintahan Ariel Sharon, tetapi juga menambahkan 14 permukiman lainnya.
Menurut laporan surat kabar penjajah israel, Haaretz, proyek-proyek tersebut menyasar kawasan yang dihuni lebih dari 720.000 warga Palestina.
Di antara proyek yang paling menonjol adalah rencana pembangunan dua kota permukiman baru penjajah israel, yaitu Yahant di lahan Kota Arraba, Jenin, serta Rosh HaAyin Mizrahit yang direncanakan berdiri di wilayah Desa Deir Ballut dan Az-Zawiya, Salfit.
Melalui penghubungan blok-blok permukiman dengan jaringan jalan khusus, penjajah israel disebut berupaya memisahkan desa-desa dan kota-kota Palestina satu sama lain serta membatasi perluasan wilayah mereka. Jalan-jalan tersebut dirancang untuk menghubungkan permukiman dan memberikan akses yang lebih mudah bagi para pemukim.
Selain itu, sejumlah pos permukiman dan kawasan penggembalaan yang sebelumnya tidak memiliki status resmi juga dilaporkan telah dilegalkan dan dimasukkan ke dalam perencanaan tata ruang resmi.
Laporan Pusat Pembelaan Tanah menyebutkan bahwa proyek-proyek permukiman baru di antara Nablus dan Jenin didukung oleh pembangunan jalan yang menghubungkan Permukiman Homesh dengan Lembah Yordan. Jalan tersebut dinilai semakin memperkuat pemisahan geografis antara wilayah-wilayah Palestina.
Di kawasan Sanur dan sekitarnya, pembangunan juga terus berlanjut melalui proyek 126 unit rumah permanen yang mendapat dukungan dari otoritas penjajah israel.
Laporan yang sama mengungkapkan adanya rencana pembangunan jalan-jalan tambahan yang akan menghubungkan sejumlah permukiman di wilayah Jenin.
Sementara itu, Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina menyatakan bahwa militer penjajah israel dan para pemukim ilegal Yahudi israel melakukan 1.659 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka selama Mei lalu.
Menurut komisi tersebut, militer Israel melakukan 1.108 serangan, sedangkan para pemukim melakukan 551 serangan. Bentuk pelanggaran yang dilaporkan mencakup kekerasan fisik, pencabutan pohon, pembakaran lahan pertanian, perampasan harta benda, serta penghancuran rumah dan fasilitas pertanian.
Komisi itu juga menyebut bahwa otoritas penjajah israel telah menyetujui pembangunan dua sekolah agama Yahudi di wilayah utara Tepi Barat. Sekolah pertama direncanakan dibangun di dekat Permukiman Ganim, tenggara Jenin, sedangkan sekolah kedua akan dibangun di Permukiman Emek Dotan yang berdiri di atas lahan milik warga Palestina di sebelah barat Kota Arraba. (wm/knrp)
