Ben-Gvir Injak Kepala Tahanan Palestina Saat Serbu Penjara Ofer
Sebuah organisasi hak-hak tahanan Palestina mengatakan Menteri Keamanan Nasional israel Itamar Ben-Gvir “menginjak kepala para tahanan” selama penggerebekan di Penjara Ofer di Tepi Barat yang diduduki Jumat lalu (14/2).
Video yang beredar di media sosial menunjukkan pasukan israel menyerbu bagian penjara dekat Ramallah sambil didampingi oleh Ben-Gvir dan kru media israel.
Menurut Masyarakat Tahanan Palestina, operasi tersebut menargetkan Seksi 26 selama penghitungan malam dan berlangsung sekitar 15 menit. Penggerebekan tersebut melibatkan anjing polisi dan granat kejut.
Kelompok tersebut mengatakan Ben-Gvir tetap berada di dalam seksi tersebut selama kurang lebih satu jam dan menyampaikan pernyataan yang digambarkan sebagai provokatif dan merendahkan para tahanan.
Kesaksian Penyiksaan
Para pengacara yang berbicara dengan para tahanan melaporkan beberapa laporan tentang perlakuan buruk secara langsung. Mereka menyebutkan “beberapa laporan tentang Ben-Gvir menginjak kepala para tahanan dan merekam penghinaan, penyiksaan, dan pelecehan terhadap mereka.”
Para tahanan juga mengatakan bahwa para penjaga memaksa mereka untuk berbaring telungkup selama operasi penindasan.
Menurut organisasi tersebut, para tahanan dipaksa untuk terus menekan kepala dan wajah mereka ke tanah untuk mempermalukan mereka, merendahkan martabat mereka, dan menyiksa mereka secara fisik.
Kelompok tersebut menambahkan bahwa menteri bersikeras untuk menerbitkan rekaman yang mendokumentasikan penggerebekan tersebut bersamaan dengan pesan politik yang mempromosikan undang-undang yang menganjurkan eksekusi tahanan Palestina.
Pesan Politik
Kelompok hak asasi manusia tersebut mengatakan bahwa penggerebekan tersebut melibatkan kehadiran media yang luas dan bahwa rekaman yang dirilis setelahnya adalah disengaja. Mereka menggambarkan video tersebut sebagai “upaya berkelanjutan untuk menargetkan keinginan tahanan Palestina dan mengintimidasi keluarga tahanan.”
Organisasi tersebut menambahkan bahwa insiden tersebut mencerminkan “perlombaan untuk mencapai tingkat kebrutalan yang lebih tinggi guna mendapatkan lebih banyak dukungan dalam masyarakat israel tanpa memperhatikan hukum dan norma kemanusiaan.”
Kelompok tersebut menyerukan intervensi internasional dan menuntut agar organisasi diizinkan mengunjungi para tahanan dan agar kunjungan keluarga dipulihkan. (is/knrp)
